Press ESC to close

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Seorang ahli ilmu pernah mengatakan bahwa sebagian dari mereka, sahabat-sahabat Nabi, jika bangun tidur dan melihat keluarganya memiliki sesuatu (kekayaan), maka mereka akan merasa sedih. Akan tetapi, jika mereka tidak memiliki apa pun, mereka merasa gembira dan bahagia.

Maka dikatakan kepada para sahabat, “Orang-orang akan merasa sedih ketika tidak memiliki apa pun (kekayaan), dan bahagia ketika memiliki sesuatu, tetapi engkau tidak seperti itu.” Kemudian dijawab, “Jika aku bangun tidur dan keluargaku tidak memiliki apa pun, aku merasa bahagia karena aku memiliki teladan dalam diri, yaitu Nabi Muhammad Saw. Namun, jika keluargaku memiliki sesuatu, aku sedih karena merasa tidak memiliki teladan Nabi Muhammad Saw. yang selalu hidup sederhana.”

Kata Gus Ulil, ini berbeda dengan ulama-ulama pencinta dunia yang selalu merasa bersedih ketika tidak memiliki sesuatu (kekayaan). Itu sebabnya, karena merasa eman dengan kekayaannya, ketika mereka, para ulama pencinta dunia, dituntun ke jalan kemakmuran, mereka akan menjadi sedih dan cemas.

Mengabaikan Rasa Syukur

Inilah ciri-ciri para pendahulu yang saleh, dan mereka memiliki kebajikan yang lebih besar daripada kamu. Dikatakan kepada ulama pencinta dunia, “Demi Allah! Apakah kalian seperti sahabat-sahabat itu?! Kalian sangat jauh dari rupa sahabat-sahabat. Kalian menjadi sombong dalam kekayaan, membual dalam kemakmuran, bersenang-senang dalam kebahagiaan, dan mengabaikan rasa syukur.”

“Kalian ini padahal sudah diberkahi dengan kelimpahan, namun kalian putus asa di saat-saat sulit. Kalian tidak puas jika diberikan cobaan dan ketetapan Allah. Kalian membenci kemiskinan dan muak dengan kekurangan. Kalian mengumpulkan kekayaan karena takut akan kemiskinan.”

“Bukankah ini adalah sesuatu yang buruk terhadap Allah Swt. oleh karena kalian tidak mempercayai jaminan rezeki dari Allah Allah Swt., dan merupakan dosa besar. Bukankah Nabi Muhammad Saw. telah bersabda kepada umatnya: “Bahwa orang-orang yang paling buruk di antara umatku adalah mereka yang hidup dari kemewahan dan tubuh mereka tumbuh karenanya.”

Kehilangan Kebahagiaan Akhirat Karena Kenikmatan Dunia

Sebagian ulama telah berkata, pada Hari Kiamat nanti, sekelompok orang akan datang untuk menuntut pahala bagi diri mereka sendiri. Mereka para kelompok itu akan diberitahukan, “Kamu telah menghabiskan harta bendamu di dunia ini dan menikmatinya sementara kamu lalai, kehilangan kebahagiaan akhirat karena kenikmatan dunia. Sungguh itu adalah sebuah penyesalan dan malapetaka!”

“Sesungguhnya, kamu mengumpulkan kekayaan untuk keuntungan duniawi, status sosial, kesombongan, dan perhiasan-perhiasan. Padahal telah diberitahukan bahwa siapa pun yang mencari keuntungan duniawi atau kesombongan, ia akan bertemu Allah Allah Swt. dalam keadaan murka-Nya. Akan tetapi kamu tidak peduli terhadap murka Allah Swt. karena sudah tenggelam dalam mencari keuntungan duniawi dan status sosial.”

“Mungkin kamu merasa senang hidup di dunia karena bisa dekat dengan harta yang lebih kamu cintai daripada mendekati dan mencintai Allah Yang Maha Kuasa? Dan pada akhirnya kamu membenci bertemu Allah Swt., dan kamu tidak menyadari bahwa Allah Swt., sendiri lebih membenci bertemu kamu.”

“Mungkin kamu berduka atas harta duniawi yang telah kamu lewatkan. Bukankah Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: “Barang siapa berduka atas harta duniawi yang telah dia lewatkan, maka ia akan semakin dekat dengan api neraka sejauh perjalanan satu bulan (ada yang mengatakan perjalanan satu tahun.” Dan kamu berduka atas apa yang telah kamu lewatkan, tanpa memperdulikan kedekatanmu dengan azab Allah Swt.”

“Bahkan, mungkin kamu sudah menyimpang dari agamamu demi keuntungan duniawimu, dan kamu bergembira atas nikmat dunia yang terima karena telah menemukan kenyamanan dan kesenangan di dalamnya. Bukankah Nabi juga telah bersabda: “Barang siapa mencintai dunia dan bergembira di dalamnya, maka rasa takut akan akhirat akan lenyap dari hatinya.”

Tanggung Jawab Harta di Akhirat

Diceritakan bahwa sebagian ulama mengatakan: “Kamu (ulama pencinta dunia) akan dimintai pertanggungjawaban atas kesedihanmu terhadap apa yang telah kamu lewatkan di dalam urusan dunia ini, dan akan dimintai pertanggungjawaban juga atas kegembiraanmu di dunia ini ketika kamu mampu memperolehnya.”

“Mungkin kamu jauh lebih peduli dengan urusan dunia ini daripada urusan akhirat. Mungkin kamu menganggap musibah dosa-dosamu lebih ringan daripada musibah kehilangan harta benda duniawimu. Bahkan, rasa takutmu kehilangan kekayaan lebih besar daripada rasa takutmu berbuat dosa.”

“Mungkin kamu akan memberikan semua kekotoran yang telah kamu kumpulkan untuk keuntungan dan status duniawi. Mungkin kamu akan menyenangkan manusia dengan membuat Allah Swt. murka agar kamu dihormati dan ditinggikan. Celakalah kamu! Seolah-olah penghinaan Allah Swt. terhadapmu pada Hari Kiamat lebih mudah kamu tanggung daripada penghinaan manusia terhadapmu.”

“Mungkin kamu akan menyembunyikan kesalahanmu dari manusia dan tidak peduli dengan pengetahuan Allah Swt. Seolah-olah penghinaan di hadapan Allah Swt. lebih mudah kamu tanggung daripada penghinaan di hadapan manusia. Seolah-olah hamba lebih penting bagimu daripada Allah Swt.”

“Bagaimana kamu dapat berbicara di hadapan orang-orang yang berakal dengan kekurangan seperti itu di dalam dirimu?! Harusnya kamu merasa malu dengan kenajisan dan kekotoranmu, akan tetapi kamu masih membawa nama-nama sahabat sebagai dalil demi memperoleh dunia.”

“Sungguh! Betapa jauhnya kamu dari para pendahulu yang saleh! Demi Allah, aku telah mendengar bahwa para sahabat Nabi lebih menjauhi apa yang halal baginya daripada kamu menjauhi apa yang haram bagimu. Apa yang halal bagimu adalah dosa besar bagi para sahabat.”

“Para sahabat lebih membenci pelanggaran kecil daripada kamu membenci dosa besar. Semoga kekayaanmu itu diperoleh dengan cara yang halal seperti para sahabat-sahabat Nabi memperolehnya. Dosa-dosamu sama besarnya dengan amal kebaikan mereka, para sahabat. Semoga puasamu seperti puasa mereka, semoga semua amal kebaikanmu seperti salah satu amal kebaikan mereka.”

“Aku telah mendengar dari salah seorang sahabat Nabi yang berkata: “Pahala sejati orang-orang yang saleh adalah apa yang mereka lewatkan di dunia ini, dan keinginan mereka adalah apa yang ditahan dari diri mereka. Barang siapa yang tidak seperti itu, maka ia tidak bersama mereka di dunia dan di akhirat.”

“Maha Suci Allah Swt.! Betapa besarnya perbedaan antara kedua golongan itu. Golongan sahabat yang terbaik adalah golongan yang tinggi di sisi Allah Swt., sedangkan golongan orang-orang seperti kamu adalah golongan yang rendah. Semoga Allah Swt. yang memiliki sifat Maha Pemurah mengampuni kamu dengan rahmat-Nya.”

Kata Gus Ulil, begitulah tindakan dan perilaku ulama su’ (jahat). Ia memang orang sangat berilmu, akan tetapi ilmu dan pengetahuan agamanya digunakan untuk mengejar tujuan duniawi, popularitas, harta, bahkan jabatan.

Karena itu, tak heran jika mereka cenderung mengikuti hawa nafsu, memutarbalikkan fakta, dan seringkali menjerumuskan umat kepada kesesatan demi keuntungan dirinya. Jelasnya, ulama ini, secara umum, selalu menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi semata. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf

Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Amalan Sederhana yang Mengantar Syahid!
Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.