Tradisi manganan di Dusun Kedungkebo, Desa Rayung, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban memiliki kekhasan tersendiri ketika dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini dipusatkan di Maqbarah Al-Maghfiroh (area pemakaman umum dusun) yang dilaksanakan pada hari Senin (16/02/2026) sebagai bentuk doa bersama, refleksi spiritual, dan ungkapan syukur atas kesempatan kembali bertemu dengan bulan yang penuh berkah, sekaligus sebagai momentum mempererat silaturahmi antarwarga.
Warga berkumpul dengan membawa hidangan sederhana sebagai simbol kebersamaan. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa untuk para leluhur, memohon ampunan bagi mereka serta memohon kekuatan dan kesehatan agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan optimal. Setelah itu, masyarakat melaksanakan makan bersama sebagai wujud solidaritas dan persaudaraan.
Tradisi ini memiliki dimensi religius yang kuat karena dilaksanakan di area maqbarah. Dalam agama Islam ziarah kubur memiliki dasar yang jelas. Rasulullah SAW bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bertujuan menumbuhkan kesadaran akan kematian dan kehidupan akhirat. Sehingga jika di korelasikan dengan tradisi manganan menjelang Ramadhan, kegiatan ini menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) sebelum memasuki bulan suci yang identik dengan peningkatan ibadah dan penyucian jiwa.
Selain itu, menyambut Ramadhan dengan rasa syukur juga sejalan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Kesempatan bertemu Ramadhan merupakan nikmat yang besar. Tidak semua orang diberi umur panjang untuk kembali merasakannya. Sehingga manganan dapat dipahami sebagai ekspresi syukur kolektif atas karunia tersebut.
Jika dilihat dari sudut prespektif akidah islam penting ditegaskan bahwa doa dan permohonan tetap ditujukan hanya kepada Allah Swt. Ziarah dilakukan untuk mendoakan orang yang telah wafat, bukan untuk meminta pertolongan kepada mereka. Selama pelaksanaannya tidak mengandung unsur syirik atau keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, tradisi ini berada dalam koridor kebolehan menurut syariat.
Perlu ditegaskan bahwa tradisi manganan di Maqbarah Al-Magfirah bukan sekadar tradisi dan budaya, tetapi juga media penguatan spiritual dan sosial. Tradisi ini merepresentasikan harmoni antara adat dan agama, sekaligus menjadi momentum kolektif masyarakat Dusun Kedungkebo Desa Rayung Kec. Senori Kab. Tuban dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan semangat kebersamaan.

