Seorang murid (orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan) sepantasnya bertekad untuk menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan buruk dan dosa. Jangan sampai seorang murid menggerakkan anggota tubuhnya untuk melakukan maksiat ataupun dosa, sebab hal ini tidaklah pantas bagi seorang murid.
Yang semestinya dilakukan seorang murid adalah menggerakkan anggota tubuh dengan perbuatan positif yang mendatangkan manfaat untuk akhirat. Anggota tubuh yang semestinya dijaga karena potensi melakukan dosa adalah lisan, telinga, dan mata.
Tiga Anggota Tubuh yang Dikendalikan dan Caranya
Pertama, mengendalikan lisan. Anggota tubuh ini secara fisik memang kecil, tetapi dosa yang diakibatkannya sangat besar. Adapun perbuatan dosa yang bersumber dari lisan adalah berbohong, gibah, dan perkataan keji yang menyakiti orang lain. Salah satu alasan perbuatan ini masuk ke dalam katagori dosa karena ada unsur tidak mendatangkan manfaat dan mengeraskan hati. Sebab itu bagi seorang murid harus menghindarinya dan mengendalikan lisan dengan baik.
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan, seorang murid tidak pantas menggerakkan lisannya kecuali untuk hal-hal yang positif seperti membaca al-Qur’an, zikir, pesan kebaikan bagi muslim, menyuruh barbuat baik, melarang kemunkaran, atau perkataan dari keperluan urusan dunia untuk mendukung urusan akhirat. Rasulullah Saw. bersabda:
كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ، أَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ، أَوْ نَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ
Artinya: “Setiap perkataan anak Adam akan berdampak buruk baginya dan tidak bermanfaat kecuali zikir kepada Allah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran”
Kedua, telinga. Anggota tubuh ini berfungsi sebagai alat pendengaran dan juga sebagai pintu masuk menuju hati terbuka. Adakalanya seseorang terpengaruh orang lain sebab mendengarkan ucapannya. Seperti contoh jika pada waktu kecil seorang sering mendengarkan ucapan yang baik, maka ia akan memahami dan mengulangi apa yang telah diucapkan orang lain. Begitu juga sebaliknya, jika yang sering didengarkan adalah ucapan buruk, maka ia juga akan mengucapkannya.
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan sejatinya seseorang mudah terpengaruh karena ia memiliki telinga. Oleh karena itu seringkali sesuatu yang terdengar membawa pengaruhnya kepada hati sehingga sulit menghilangkan darinya. Bersikap waspada sangatlah dianjurkan sebagai langkah preventif untuk menjaga telinga supaya tetap bersih.
Adapun menjaga pendengaran diantaranya adalah tidak mendengarkan ghibah (gosip), fitnah, atau kata-kata yang menyakiti orang lain, mendengarkan hal yang membawa kebaikan, seperti nasihat, kajian agama, atau lantunan Al-Qur’an, dan tidak menikmati mendengar aib orang lain, karena itu dapat mengotori hati.
Ketiga, mata. Anggota tubuh ini juga memiliki pengaruh terhadap diri seorang murid. Sering kali seseorang terpengaruh terhadap apa yang dia lihat, sehingga mempengaruhi prilakunya. Contohnya seperti seseorang melihat fasion kekinian yang membuka aurat kemudian ia meniru fasion tersebut. Ataupun ketika kita melihat informasi yang ada di media sosial kita terpengaruh dengan informasinya, padahal secara kenyataan kita tidak tau apakah itu sesuai dengan fakta atau hoax.
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menegaskan pentingnya menjaga pandangan, karena sejatinya ujian terberat adalah ada di penglihatan. Penglihatan mata kita sering kali cenderung kepada perkara yang sifatnya dunia, seperti kecenderungan melihat perhiasan sehingga mengejarnya. Artinya penglihatan kita penilaiannya hanyalah pada fisik bukan batin.
Adapun menjaga penglihatan diantaranya adalah menundukkan pandangan dari hal yang diharamkan atau yang dapat membangkitkan hawa nafsu, menggunakan mata untuk kebaikan, misalnya membaca Al-Qur’an, kitab ilmu, atau melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam, dan menghindari tontonan yang merusak hati, seperti konten yang penuh maksiat atau kekerasan.
Tiga anggota tubuh ini harus dijaga dan dikendalikan supaya tetap hidup. Jika seseorang murid membiarkan ketiga anggota tubuh menerima hal buruk, maka hati akan mudah menjadi keras dan jauh dari Allah.