Press ESC to close

Apa Arti Menjadi Kader PMII? Abah Imam Menjawab dengan "Al-Hayah Al-Harakah"

Oleh: Rifky Gimnastiar

(Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso Angkatan 2022/Kader PMII)

Hikmah, (Pesantren.Id) — Ada pertemuan yang selesai ketika kita meninggalkan tempatnya. Ada pula pertemuan yang justru baru dimulai setelah kita beranjak dari sofa kediaman. Sowan kami kepada Abah KH. Imam Barmawi Burhan, B.A pada Rabu, 8 April 2026, menjadi salah satunya. Di kediaman beliau, Dhalem Pondok Pesantren Nurul Burhan Badean, Bondowoso, percakapan tentang mahasiswa, ilmu, agama, Indonesia dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terasa bukan seperti ceramah yang harus dicatat, melainkan seperti sebuah pertanyaan yang harus dibawa pulang sebagai bekal gagasan dalam pergerakan.

Abah Imam, yang juga merupakan Ketua Umum Yayasan At-Taqwa Bondowoso sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Burhan Badean Bondowoso, berbicara dengan cara yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itulah beberapa kalimat beliau terasa menancap. Pertanyaannya sederhana: sebenarnya apa arti menjadi kader PMII?

Pertanyaan itu penting diajukan kembali karena menjadi kader hari ini sering kali cukup dengan perkara administratif. Sudah ikut MAPABA, sudah mengikuti PKD, punya Sertifikat, pernah menjadi panitia, aktif dalam grup WhatsApp, lalu merasa telah menjadi bagian dari pergerakan. Padahal, menjadi kader seharusnya tidak pernah selesai hanya dengan pengakuan administratif.

Kaderisasi bukan mesin pencetak status. Ia semestinya menjadi proses yang mengubah cara seseorang berpikir, bersikap dan mengambil posisi di tengah kehidupan. Sebab kalau setelah bertahun-tahun ber-PMII seseorang tetap tidak memiliki kegelisahan terhadap keadaan di sekitarnya, kita patut bertanya: apa yang sebenarnya bergerak dari dirinya?

Di sinilah saya teringat kalimat Abah Imam yang menurut saya sederhana, tetapi sekaligus menjadi tamparan bagi siapa saja yang mengaku sebagai kader pergerakan. “PMII itu bukan himpunan, bukan sekadar ikatan. PMII itu pergerakan, jadi harus ada gerak. Hidup itu gerak, al-hayah al-harakah.”

Kalimat itu seolah mengingatkan bahwa kata “pergerakan” bukan tempelan pada nama organisasi. Ia adalah tuntutan. Ada konsekuensi yang harus dibayar ketika seseorang memilih berada di dalamnya. Kalau PMII hanya menjadi tempat berkumpul, tempat bertukar jabatan, tempat membangun jaringan atau sekadar ruang untuk menunjukkan eksistensi, lalu di mana letak “gerak”-nya?

Gerak yang dimaksud tentu tidak sesempit bergerak secara fisik. Tidak semua gerakan harus berakhir di jalan raya dengan poster dan pengeras suara. Gerakan bisa dimulai dari kepala: membaca, bertanya, mencurigai sesuatu yang dianggap sudah selesai, dan berani mengatakan bahwa ada yang keliru ketika memang terdapat kekeliruan.

Gerakan juga bisa tumbuh dari hati: merasa terusik ketika melihat ketidakadilan, tidak nyaman ketika melihat kemiskinan, dan tidak bisa tidur nyenyak ketika masyarakat diperlakukan tidak adil. Setelah itu barulah gerakan menemukan bentuknya dalam tindakan. Karena tanpa kesadaran, aktivisme mudah berubah menjadi rutinitas. Dan rutinitas yang kehilangan tujuan hanya akan menghasilkan keramaian, bukan perubahan.

Abah Imam bahkan mengingatkan bahwa diam pun memiliki akibat. “Kalau tidak bergerak, itu bukan hidup. Diam itu justru melahirkan kemiskinan, miskin ide, miskin gagasan, miskin keberanian.” Bagi saya, ini bukan semata-mata kritik terhadap kader yang pasif. Ini juga kritik terhadap kultur organisasi yang terkadang terlalu mudah puas dengan banyaknya kegiatan, tetapi lupa bertanya tentang gagasan apa yang lahir dari kegiatan tersebut.

Kita sering menghitung berapa forum yang diselenggarakan, berapa orang yang hadir, berapa spanduk yang terpasang, tetapi lupa menghitung berapa gagasan yang benar-benar tumbuh dan berapa persoalan masyarakat yang benar-benar disentuh.

Padahal PMII lahir dari tradisi intelektual dan keislaman yang panjang. Karena itu, menjadi kader tidak cukup dengan memiliki keberanian bersuara. Suara harus mempunyai dasar. Kritik harus mempunyai pengetahuan. Keberpihakan harus mempunyai argumentasi. Inilah mengapa Abah Imam menyampaikan sesuatu yang sangat penting: “Mahasiswa itu ya ngaji, punya scientific spirit, punya ruh ilmiah. Ilmu itu harus diamalkan, dan amal harus didasari ilmu. Jadi tidak boleh kosong dua-duanya.” Bagi saya, kalimat ini merupakan kritik terhadap dua jenis kader sekaligus: kader yang banyak ilmu tetapi tidak pernah turun ke realitas, dan kader yang banyak bergerak tetapi malas membangun basis keilmuan.

Kita tentu tidak kekurangan mahasiswa yang pandai berbicara. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana melahirkan mahasiswa yang mampu mempertanggungjawabkan apa yang dibicarakannya. Di zaman ketika informasi berhamburan hanya dalam satu genggaman, persoalannya bukan lagi sulit mendapatkan informasi.

Justru persoalannya adalah memilah mana pengetahuan dan mana sekadar kebisingan. Kader PMII tidak boleh menjadi generasi yang mudah percaya hanya karena sebuah informasi datang dari orang yang ia sukai. Ia harus belajar memeriksa data, membaca konteks, membandingkan sumber dan memahami persoalan sebelum mengambil sikap. Scientific spirit yang dimaksud Abah Imam menjadi relevan di sini: bergerak dengan pengetahuan, bukan bergerak karena ikut-ikutan.

Tetapi ilmu juga tidak boleh berhenti menjadi koleksi dalam kepala. Ada kalimat yang sering kita dengar: ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Bagi kader pergerakan, persoalannya bahkan lebih jauh. Ilmu harus menemukan jalan pulang kepada masyarakat. Kalau seorang kader bisa membahas teori keadilan berjam-jam tetapi tidak pernah peduli ketika tetangganya diperlakukan tidak adil, ada sesuatu yang tidak selesai dari keilmuannya. Kalau seorang kader fasih berbicara tentang pemberdayaan masyarakat tetapi tidak pernah mau turun mendengarkan suara masyarakat, ada jarak yang harus diperiksa kembali. Di sinilah ilmu dan amal seharusnya bertemu.

Namun Abah Imam tidak berhenti pada ilmu dan gerakan. Ada satu fondasi yang sering kali justru paling mudah hilang ketika seseorang mulai merasa memiliki pengaruh: orientasi. “Tujuan kita jelas, mencari ridha Allah. Bukan sekadar dunia. Kita ingin selamat dan mulia sampai akhirat. Itu orientasi kita sebagai mahasiswa Islam.”

Pesan ini penting karena organisasi mahasiswa sangat dekat dengan godaan untuk menjadikan aktivitas sebagai tangga menuju kepentingan pribadi. Jabatan, popularitas, jaringan, bahkan akses terhadap kekuasaan bisa membuat seseorang lupa mengapa ia pertama kali belajar berorganisasi.

Menjadi kader PMII dengan demikian bukan hanya soal seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai. Bukan pula soal siapa yang paling dikenal atau paling sering tampil dalam forum. Ukurannya justru terletak pada apa yang dilakukan ketika tidak ada yang melihat. Apakah ia masih mau membaca? Apakah ia masih mau belajar? Apakah ia masih mau mendengar masyarakat? Apakah ia masih berani mengatakan benar ketika kebenaran itu tidak menguntungkan dirinya? Dan yang paling penting, apakah semua proses itu membuatnya menjadi manusia yang lebih baik atau justru semakin jauh dari nilai-nilai yang dahulu ia bicarakan?

Di titik ini, saya kira ada satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh kader PMII: kita ini Indonesia. Abah Imam mengatakannya dengan kalimat yang sangat membumi, “Dan kita ini Indonesia. Kita lahir di sini, makan dari tanah sini, ibadah di sini. Maka kita juga harus punya komitmen kebangsaan. Islam dan Indonesia itu tidak bertentangan.”

Kalimat tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberislaman kader PMII tidak tumbuh di ruang kosong. Kita hidup di Indonesia, berinteraksi dengan masyarakat Indonesia, menyaksikan persoalan Indonesia, dan karena itu tanggung jawab kebangsaan tidak bisa dilepaskan dari identitas keislaman.

Barangkali inilah yang membuat pesan Abah Imam terasa utuh. Pergerakan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan ilmu agar tidak menjadi aktivisme yang membabi buta. Ilmu membutuhkan amal agar tidak berubah menjadi kesombongan intelektual. Amal membutuhkan nilai spiritual agar tidak mudah dibajak oleh kepentingan. Dan semuanya membutuhkan konteks kebangsaan agar perjuangan tidak kehilangan tempat berpijak. Empat hal itu—gerak, ilmu, amal dan kebangsaan—seharusnya menjadi napas seorang kader PMII.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita menerjemahkan semua itu dalam kehidupan sehari-hari. Sebab pergerakan paling sulit justru bukan ketika kita berada di atas panggung. Pergerakan yang sesungguhnya terjadi ketika tidak ada tepuk tangan. Ketika seorang kader memilih membaca daripada sekadar menggulir layar media sosial.

Ketika ia memilih berdiskusi daripada menghakimi. Ketika ia memilih memeriksa data daripada menyebarkan kabar yang belum jelas. Ketika ia berani menyuarakan keresahan masyarakat tanpa menjadikan masyarakat sebagai komoditas politik. Dan ketika ia mampu menerima kritik terhadap dirinya sendiri tanpa buru-buru menganggap kritik sebagai serangan.

Karena itu, “al-hayah al-harakah” bagi saya bukan sekadar semboyan yang indah untuk ditulis di spanduk atau status media sosial. Ia adalah pekerjaan rumah. Hidup adalah gerak, tetapi gerak yang dimaksud bukan gerak yang gaduh. Ia adalah gerak yang sadar, berilmu dan mempunyai tujuan. Ada saatnya kader harus bergerak ke jalan untuk menyuarakan kepentingan rakyat.

Ada saatnya ia harus bergerak ke perpustakaan untuk membaca. Ada saatnya ia harus bergerak ke pesantren untuk ngaji. Ada saatnya ia harus bergerak ke tengah masyarakat untuk mendengar. Dan ada saatnya ia harus bergerak ke dalam dirinya sendiri untuk mengoreksi kesalahan.

Satu kesadaran yang sederhana dapat kami tuai dari sowan kepada Abah: PMII tidak membutuhkan kader yang sekadar banyak secara kuantitas tetapi  PMII membutuhkan kader yang hidup dan menghidupkan. Kader yang pikirannya bergerak, nuraninya bergerak, ilmunya bergerak dan pengabdiannya bergerak. Sebab organisasi sebesar apa pun akan kehilangan makna jika kader-kadernya berhenti bertanya dan berhenti peduli.

Maka pertanyaan “Apa arti menjadi kader PMII?” seharusnya tidak dijawab dengan sertifikat MAPABA, jabatan khidmah atau atribut organisasi yang wah. Jawabannya harus ditemukan dalam cara kita menjalani hidup.

Dan mungkin, di sisi elegan itulah pesan Abah Imam menemukan maknanya: “PMII itu pergerakan, jadi harus ada gerak.” Al-hayah al-harakah. Hidup adalah Pergerakan ! Maka selama masih menyebut diri sebagai kader pergerakan, jangan terlalu cepat merasa sampai padahal baru melangkah, baru memulai. 

Perjuangan bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang teramanahkan, tetapi dari seberapa besar bentuk pengabdian yang diberikan, dan ingatlah ! Di Organisasi bukan tentang siapa yang "Paling" tapi tentang siapa yang selalu "Saling".

Semoga gerak kita adalah gerak yang bermanfaat dan barokah kepada orang-orang disekitar kita, Salam Pergerakan !

Rifky Gimnastiar

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Aktif di lingkungan Organisasi Nahdlatul Ulama' (NU), Ikatan Santri Alumni Salafiyah-Syafi'iyah (IKSASS), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Aktivitasnya banyak mewarnai dunia pesantren, gerakan kemahasiswaan, kehidupan masyarakat, dan pengabdian kepada umat, sembari menekuni bidang akademik dan pers.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Libatkan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy Sebagai Pemeran, Film SATRIA Siap Tayang di KCM Roxy
Pakaian Abu Bakar As-Siddiq yang Ditiru dan Dipakai Seluruh Malaikat di Surga
Mengenal Sosok KH Badrud Tamam, M.H.I.: Jejak Seorang Guru, Ulama Pesantren, dan Pendidik Generasi Nahdliyin
Refleksi Ngaji Jawahirul Qur’an Gus Ulil (Episode 27): Menggali Mutiara Makrifat dan Retorika Kosmis

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.