Pendahuluan
Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai teologis, spiritual, dan sosial. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi merupakan manifestasi kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas ruang dan waktu. Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai dengan rasionalitas dan kemajuan sains, Isra’–Mi’raj tetap relevan untuk dikaji secara multidisipliner, khususnya dari aspek keimanan, sains, dan sosial, agar umat Islam mampu memahami maknanya secara utuh dan kontekstual.
Pengertian dan Dasar Dalil Isra’–Mi’raj
Secara etimologis, Isra’ berarti perjalanan malam hari, sedangkan Mi’raj berarti naik atau alat untuk naik. Peristiwa Isra’–Mi’raj dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)
Adapun peristiwa Mi’raj dijelaskan dalam Surah An-Najm ayat 13–18, yang menggambarkan Nabi SAW melihat tanda-tanda kebesaran Allah di Sidratul Muntaha. Hadits tentang Isra’–Mi’raj diriwayatkan secara mutawatir maknawi, di antaranya dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, termasuk hadits tentang perintah shalat lima waktu.
Kajian Keimanan: Isra’–Mi’raj sebagai Ujian Iman
Isra’–Mi’raj merupakan ujian keimanan yang nyata. Peristiwa ini terjadi pada fase ‘Amul Huzn, saat Nabi SAW mengalami tekanan psikologis dan sosial yang sangat berat. Dalam konteks ini, Isra’–Mi’raj menjadi bentuk penghiburan (tasliyah) sekaligus penguatan iman.
Reaksi kaum Quraisy yang mengejek Nabi SAW menunjukkan bahwa peristiwa ini menuntut keimanan yang tulus. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.”
Sikap ini mencerminkan iman yang mendahulukan wahyu di atas logika semata. Dalam Islam, iman tidak menafikan akal, tetapi menempatkan akal dalam koridor wahyu.
Puncak Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Rasulullah SAW bersabda:
“Shalat adalah tiang agama.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, shalat menjadi simbol hubungan vertikal antara manusia dan Allah, sekaligus fondasi pembentukan iman yang kokoh.
Isra’–Mi’raj dalam Perspektif Sains Modern
Secara empiris, Isra’–Mi’raj merupakan mukjizat yang tidak dapat diverifikasi melalui metode ilmiah konvensional. Namun, beberapa konsep sains modern dapat menjadi pendekatan reflektif untuk memahami kemungkinan fenomena luar biasa tersebut.
Teori relativitas khusus Albert Einstein menjelaskan bahwa waktu bersifat relatif. Dalam rumus dilatasi waktu, semakin tinggi kecepatan suatu objek mendekati kecepatan cahaya, semakin lambat waktu yang dialaminya dibandingkan pengamat diam. Fenomena ini telah dibuktikan secara empiris melalui eksperimen jam atom pada satelit GPS, yang menunjukkan perbedaan waktu akibat kecepatan dan gravitasi.
Selain itu, fisika modern juga mengenal konsep space-time (ruang-waktu) dan dimensi tambahan (higher dimensions) dalam teori string. Meskipun masih bersifat teoretis, konsep ini menunjukkan bahwa realitas tidak sesederhana yang ditangkap oleh pancaindra manusia.
Dalam konteks ini, Isra’–Mi’raj tidak dimaksudkan untuk “dibuktikan” oleh sains, melainkan menunjukkan bahwa keterbatasan ilmu manusia tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak wahyu. Sains bersifat empiris dan berkembang, sementara mukjizat bersumber dari kekuasaan Allah SWT yang absolut.
Dimensi Sosial dan Etika Isra’–Mi’raj
Isra’–Mi’raj memiliki implikasi sosial yang sangat kuat, terutama melalui perintah shalat. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
Secara empiris, berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa praktik spiritual yang teratur, seperti doa dan meditasi, berkontribusi terhadap stabilitas emosional, pengendalian diri, dan empati sosial. Dalam Islam, shalat berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter individu yang berakhlak dan bertanggung jawab secara sosial.
Selain itu, perjalanan Nabi SAW ke Masjidil Aqsa menegaskan nilai persatuan umat dan pentingnya masjid sebagai pusat peradaban. Masjid dalam sejarah Islam berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan pelayanan sosial. Hal ini relevan untuk mengatasi problem sosial modern seperti individualisme, krisis moral, dan disintegrasi sosial.
Relevansi Isra’–Mi’raj di Era Kontemporer
Di era modern yang didominasi oleh rasionalisme dan materialisme, Isra’–Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Keimanan tanpa ilmu berpotensi menjadi fanatisme, sementara ilmu tanpa iman berisiko kehilangan arah dan nilai moral.
Peristiwa Isra’–Mi’raj juga mengajarkan optimisme dan keteguhan dalam menghadapi ujian hidup. Nabi SAW tetap melanjutkan dakwahnya dengan penuh kesabaran, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Penutup
Isra’–Mi’raj merupakan peristiwa multidimensional yang mengandung pelajaran keimanan, sains, dan sosial. Dari aspek keimanan, ia meneguhkan keyakinan kepada kekuasaan Allah SWT dan pentingnya shalat. Dari perspektif sains, ia mengingatkan keterbatasan akal manusia sekaligus membuka ruang dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Dari sisi sosial, Isra’–Mi’raj membentuk karakter masyarakat yang berdisiplin, bermoral, dan peduli terhadap sesama.
Oleh karena itu, Isra’–Mi’raj tidak cukup diperingati secara seremonial, tetapi harus diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak.