Press ESC to close

Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Ketahanan keluarga masih menjadi isu kompleks yang diperbincangkan di Indonesia. Terlebih di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) seperti saat ini yang mana ketahanan keluarga mengalami tantangan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemerosotan ekonomi yang mengakibatkan melemahnya ketahanan keluarga yang berujung kepada perceraian.

Data menunjukkan bahwa tahun 2025 (hingga 1 September 2025), Pengadilan mencatat terdapat 317.056 putusan cerai. Jumlah ini bisa melampaui tahun 2024 yang mencapai 399.921 kasus cerai. Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya angka perceraian sama halnya dengan melemahnya ketahanan keluarga. Hal ini tentu menjadi alarm negara kita karena keluarga adalah fondasi negara, jika ketahanan melemah maka memungkinkan ketahanan sosial bangsa juga ikut melemah.

Menariknya, melemahnya ketahanan keluarga saat ini tidak hanya karena persoalan KDRT dan kemerosotan ekonomi, melainkan juga perjudian, penyalahgunaan alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan perselingkuhan. Ini menandakan ada dimensi spiritualitas yang lemah dan kering, sebab perbuatan tersebut dilarang dalam agama. Padahal dimensi spiritualitas merupakan sumber daya ketahanan keluarga. Bahkan dalam beberapa riset menujukkan kekuatan spiritualitas keluarga mampu mencegah terjadinya perceraian (Baca Fauziah, dkk. “Understanding the Role of Spiritual Resilience in Maintaining Marital Stability: Preventing Divorce”, Analisa: Journal of Social and Religion, Vol. 9, No. 2, (2024) https://doi.org/10.18784/analisa.v9i2.2398).

Spiritualitas keluarga dapat dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui peringatan Isra Mikraj. Ada yang menarik dari pernyataan Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, yaitu Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa historis, tetapi mengandung pesan spiritual, intelektual, dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan umat manusia sepanjang zaman. Bahkan ia menegaskan bahwa masyarakat dan negara yang kuat karena fondasi keluarga yang utuh dan nilai keagamaan yang kokoh. Pertanyaannya adalah bagaimana cara membentuk ketahanan keluarga melalui peristiwa Isra Mikraj?

Spirit Isra Mikraj

Salah satu caranya adalah melakukan rethinking spirit Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. Pada umumnya, umat muslim mengetahui bahwa Isra Mikraj adalah peristiwa historis tentang kewajiban menunaikan salat lima waktu. Latar belakang kejadian Isra Mikraj ini adalah ‘amul huzni’ yang dialami oleh Rasulullah Saw. karena kehilangan Khadijah RA (istri tercinta) dan Abu Thalib (paman pelindung), akibatnya ketahanan keluarga Rasulullah Saw. mengalami kerentanan. Tentu saja, kejadian ini berdampak psikologis terhadap jati diri Rasulullah di tengah tekanan dakwahnya kepada kaum Quraisy.

Salah satu cara pelipur lara adalah dengan peristiwa Isra Mikraj. Dari peristiwa tersebut Rasulullah Saw. tidak membawa kekayaan atau kekuasaan yang melimpah, melainkan membawa instrumen spiritual kuat yang bernama salat. Instrumen spiritual ini sangatlah sederhana tetapi memiliki dampak yang luar biasa yaitu mampu menstabilkan gejolak psikologi. Dalam hal ini, salat merupakan sarana pemulihan spiritualitas sejati ketika dilanda kesusahan dan ketika menncari ketenangan.

Oleh karena itu apabila kita pikirkan ulang dan mengambil spiritnya, maka peristiwa ini menyiratkan spirit penguatan iman, peningkatan ibadah, ketabahan, dan bertahan. Apa yang telah Rasulullah Saw. alami dalam isra mikraj tidak lain adalah sebagai pelajaran bagi umatnya, bahwa isra mikraj tidak hanya berdimensi historis, melainkan memproduksi ketahanan spiritualitas.

Ketahanan Spiritual: Fondasi Utama Ketahanan Keluarga

Begitu juga dalam konteks keluarga, ketahanan keluarga ini bisa diperoleh dengan memahami bahwa untuk mampu mengelola setiap masalah yang dihadapi dan mewujudkan keluarga berkualitas maka dibutuhkan ketahanan spiritualitas yang kuat. Spiritualitas bukan sekadar praktik ibadah semata, melainkan paradigma hidup yang menuntun keluarga untuk memiliki akhlak yang baik. Nilai-nilai spriritual seperti sabar dan bertahan menjadi kompas moral yang menjaga keluarga agar tetap utuh dan harmonis meskipun dihadapkan oleh ‘amul huzni’.

Disinilah titik temu spirit isra mikraj dengan ketahanan keluarga yaitu menciptakan keluarga yang berkualitas dan tidak rapuh. Ketahanan spiritual memainkan peran sentral dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Sebab ide dasar dari spiritualitas adalah perbuatan baik untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan keharmonisan hidup. Tidak heran jika keluarga yang memiliki ketahanan spiritualitas memiliki resiko minim melakukan tindakan yang melemahkan fungsi keluarga, seperti berjudi, penyalahgunaan alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan perselingkuhan yang berujung kepada perceraian.

Pada akhirnya peristiwa isra mikraj mengajarkan kepada kita semua untuk membentuk ketahanan keluarga melalui ketahanan spiritulitas. Dari sini kita belajar rumah tangga yang kuat bukan hanya sekedar rumah tangga yang kaya secara material, melainkan juga kaya akan spiritual. Dengan kekuatan spiritual keluarga, setiap tantangan atau ‘amul huzni’ berubah menjadi penguatan iman.

Mohammad Fauzan Ni'ami

Akrab dipanggil Amik. Seorang santri abadi pegiat hukum keluarga, gender, dan disabilitas.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Menuju Kesalehan Sosial

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.